Anna’s Archive: “Demi Pelestarian, Bukan Sekadar Bajak”
Anna’s Archive, yang mengeklaim diri sebagai perpustakaan terbuka terbesar di dunia, menyebut bahwa aksi ini adalah bentuk upaya pelestarian.
Mereka mengaku telah mengantongi 86 juta file lagu dari total 256 juta koleksi Spotify.
Meski koleksi tersebut “hanya” mencakup sekitar 40% dari total pustaka Spotify, Anna’s Archive mengklaim bahwa jumlah tersebut merepresentasikan 99,6% dari total pemutaran (streams) di seluruh platform. Artinya, hampir semua lagu populer dunia kini ada di tangan mereka.
Data Rahasia yang Bocor: Fakta Unik Industri Musik
Selain file lagu, kelompok ini juga membocorkan metadata mendalam yang jarang diketahui publik, termasuk skor popularitas dan jumlah stream per lagu.
Berikut adalah beberapa temuan menarik dari hasil analisis data tersebut:
Ledakan Produksi: Album yang dirilis melonjak tajam dari 8 juta di 2023 menjadi 10,5 juta di 2024.
Genre Terbanyak: Secara mengejutkan, genre dengan jumlah artis terbanyak adalah Opera, diikuti oleh musik koral dan kamar (chamber music).
Dominasi Nada: Mayoritas lagu di Spotify menggunakan nada dasar C.
Masalah Duplikasi: Terdapat hampir 2 juta album duplikat akibat lisensi berbeda atau versi pembaruan.
Pukulan Telak di Tahun yang Berat
Skandal kebocoran data ini menjadi pil pahit tambahan bagi Spotify di tahun 2025.
Sepanjang tahun ini, Spotify sudah kehilangan banyak musisi besar yang menarik karya mereka dari platform tersebut sebagai bentuk protes.
Beberapa band rock dan metal ternama seperti King Gizzard and the Lizard Wizard, Godspeed You! Black Emperor, hingga My Bloody Valentine telah resmi hengkang, menambah tekanan bagi platform asal Swedia ini.
Saat ini, Anna’s Archive baru merilis metadata ke publik, namun mereka berencana menyebarkan file musik dan sampul album dalam bentuk torrent dalam waktu dekat.

