DumaiHeadlines.com – Kursi panas pelatih Real Madrid kembali memakan korban. Xabi Alonso secara resmi menyepakati pengunduran dirinya dari jabatan pelatih kepala pada Senin malam waktu setempat atau Selasa (13/1/2026) dini hari WIB.
Meski klub menyebut perpisahan ini sebagai “kesepakatan bersama”, berbagai laporan internal mengungkap adanya ketegangan di balik pintu ruang rapat Valdebebas.
Kekalahan menyakitkan 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi titik nadir bagi sang “Maestro”.
Berikut adalah rekonstruksi di balik layar drama pemecatan Alonso yang merangkum transisi dari era keemasan singkat menuju keruntuhan taktis.
Ultimatum Florentino Perez yang Berujung Buntu
Posisi Alonso sebenarnya sudah digoyang sejak awal Desember menyusul kekalahan telak dari Celta Vigo dan Manchester City.
Presiden Real Madrid, Florentino Perez dilaporkan sempat memberikan napas buatan dengan syarat perbaikan performa signifikan hingga ajang Piala Super Spanyol.
Sempat memberikan harapan dengan lima kemenangan beruntun, kekalahan di El Clasico ternyata menjadi batas kesabaran manajemen.
Melansir Mundo Deportivo, Perez merasa sangat tidak puas dengan skema permainan tim di final. Pertemuan darurat di Valdebebas pada Senin pagi pun menjadi ajang penghakiman bagi Alonso.

