DumaiHeadlines.com – Konflik di Timur Tengah berpotensi memasuki babak baru yang kian rumit. Pemerintah Turki secara terbuka melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak melibatkan kelompok minoritas Kurdi di Iran dalam upaya melemahkan rezim Teheran.
Bagi Ankara, manuver semacam itu bukan sekadar taktik perang biasa, melainkan ancaman langsung yang dapat mengacaukan proses perdamaian dengan militan Kurdi yang sedang berjalan di dalam negeri.
Etnis Kurdi di Iran yang terkonsentrasi di wilayah barat laut, berbatasan langsung dengan Turki dan Irak, diperkirakan mencakup 8 hingga 17 persen dari total populasi negara tersebut.
Manuver Proksi dan Kekhawatiran Ankara
Seiring memanasnya eskalasi kawasan, sejumlah laporan intelijen dan kantor berita internasional menyoroti adanya komunikasi antara pejabat AS dengan kelompok bersenjata Kurdi Iran.
Namun, untuk meredakan kekhawatiran Turki, Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu telah menepis kemungkinan penggunaan taktik tersebut.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan menyambut baik jaminan dari Washington, namun tetap membunyikan alarm kewaspadaan terhadap manuver Tel Aviv.
“Niat Israel terkait masalah ini bukanlah rahasia lagi,” tegas Fidan, seperti dikutip dari laman fri.fr.
“Selama bertahun-tahun, Israel telah menjadikan kelompok-kelompok Kurdi di kawasan ini sebagai proksi mereka.”
Turki sendiri memiliki sejarah panjang dan berdarah dalam memerangi Partai Pekerja Kurdistan (PKK), kelompok yang telah dilabeli sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa.
Meski tahun lalu PKK telah sepakat mengakhiri perjuangan bersenjata lewat perjanjian damai dengan Ankara, afiliasi mereka di Suriah dan Iran tidak terikat oleh kesepakatan tersebut. Celah inilah yang membuat Turki bersiaga penuh.
Pakar hubungan internasional Turki, Soli Ozel menjelaskan bahwa posisi negara sangat jelas, otonomi Kurdi di mana pun di kawasan ini adalah ancaman.
“Cabang PKK di Suriah telah sangat merepotkan Turki. Sama seperti zona otonom di Suriah yang tidak bisa kami terima, keberadaan afiliasi PKK yang menguasai Kurdistan Iran juga tidak dapat ditoleransi,” papar Ozel.
Dia menambahkan bahwa Ankara khawatir kemerdekaan atau otonomi di satu wilayah akan “menulari” populasi Kurdi lainnya.
‘Perjudian Berbahaya’ Tel Aviv
Kecurigaan Turki terhadap Israel bukan tanpa dasar. Selama satu dekade, militer Turki telah berhadapan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, yang dituding Ankara memiliki hubungan erat dengan PKK.
Serhan Afacan, Kepala Pusat Studi Iran yang berbasis di Turki, menyebutkan bahwa Tel Aviv bisa saja kembali memainkan kartu lamanya. “Israel memiliki sejarah panjang dengan PKK dan pastinya memiliki relasi dengan SDF. Sangat mungkin bagi Israel untuk mencoba mendukung kelompok Kurdi di Iran,” ungkapnya.
Indikasi ini sejalan dengan seruan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini, yang secara provokatif meminta rakyat Iran untuk bangkit melawan rezim mereka.
Asli Aydintasbas, spesialis Turki dan komentator politik dari Brookings Institution di Washington, menilai Israel sedang mencari strategi alternatif.
“Mulai terlihat jelas bahwa pergantian rezim tidak akan bisa dicapai hanya lewat pengeboman. Saya kira Israel sedang mengeksplorasi opsi lain, termasuk memicu kompetisi antaretnis di dalam negeri dengan memanfaatkan kelompok seperti Kurdi,” jelasnya.
Namun, Aydintasbas memperingatkan bahwa skenario ini adalah “perjudian yang sangat berbahaya” bagi semua pihak. Upaya Kurdi Iran untuk membentuk wilayah otonom tidak hanya akan memicu kemarahan Ankara, tetapi juga akan dihadapi dengan represi brutal oleh Teheran.
“Meskipun Iran kewalahan menghadapi serangan militer AS atau Israel, rezim ini masih memiliki kekuatan militer yang lebih dari cukup untuk menindas rakyatnya sendiri,” lanjutnya.
Bentrokan Kepentingan Strategis
Dukungan potensial Israel terhadap kelompok Kurdi yang berafiliasi dengan PKK ini semakin memperburuk ketegangan antara Tel Aviv dan Ankara. Hubungan kedua negara saat ini sudah berada di titik nadir akibat perang mematikan di Gaza dan perebutan pengaruh geopolitik di kawasan.
Menurut Ozel, langkah Israel mendukung Kurdi Iran sangat sejalan dengan strategi jangka panjang mereka. “Israel lebih suka melihat Iran yang hancur dalam kekacauan daripada Iran yang terkelola dengan baik. Siapa pun yang memerintah Iran, mereka tidak akan pernah bisa sejalan dengan kepentingan Israel,” argumennya.
Ozel juga mencatat bahwa Israel kini melihat Turki sebagai saingan strategis yang sepadan, yang menjelaskan mengapa banyak pejabat tinggi Israel belakangan ini kerap menyudutkan Turki dan menyamakannya dengan “Iran baru”.
Di sisi lain, Israel mengklaim operasi mereka terhadap Iran murni demi keamanan nasional. Namun, jika dukungan terhadap Kurdi Iran benar-benar diwujudkan, Israel dipastikan akan berbenturan langsung dengan kepentingan vital Turki. Bagi Washington, menjaga keseimbangan antara ambisi Israel dan garis merah sekutu NATO-nya, Turki, akan menjadi ujian diplomasi yang sangat berat di Timur Tengah.

