Pertumbuhan Ekonomi Bukan Cuma Mengandalkan Belanja Negara
Di sela-sela acara, Purbaya sempat menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa mengenai angka pertumbuhan ekonomi nasional yang berhasil menyentuh 5,61 persen. Dia menegaskan bahwa rapor hijau ini menjadi bukti nyata kuatnya ketahanan ekonomi dalam negeri. Menariknya, pertumbuhan tersebut ternyata tidak melulu didorong oleh suntikan belanja dari pemerintah.
”Perlu saya luruskan bahwa capaian itu tidak hanya didorong oleh belanja pemerintah, tetapi terutama oleh peran besar sektor swasta (private sector),” jelas dia.
Peran swasta ini terlihat dari geliat investasi yang terus masuk, ekspansi dunia usaha yang kian aktif, hingga tingkat konsumsi masyarakat yang tetap terjaga dengan baik. Tren positif ini menggambarkan besarnya kepercayaan para pelaku usaha terhadap masa depan ekonomi Indonesia meski kondisi dunia sedang penuh ketidakpastian.
Strategi Tekan Defisit APBN di Bawah 3 Persen
Selain memacu pertumbuhan, pemerintah juga berkomitmen penuh untuk menjaga kedisiplinan anggaran. Salah satunya dengan mempertahankan defisit APBN agar tetap bertengger di bawah angka 3 persen. Batasan ini penting untuk terus menjaga kepercayaan pasar internasional terhadap iklim ekonomi di tanah air.
Langkah ini dieksekusi lewat manajemen fiskal yang ekstra hati-hati. Pemerintah akan mengoptimalkan peran Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai instrumen strategis untuk membiayai berbagai proyek pembangunan tanpa harus membebani APBN secara berlebihan.
Dengan defisit yang terjaga ketat di bawah 3 persen, Indonesia diharapkan bisa mengamankan kredibilitas keuangannya, sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan.

