Sinergi Adat dan Dorongan Ekonomi Restoratif
Hebatnya lagi, kelestarian lingkungan tetap menjadi panglima. Masyarakat setempat memegang teguh aturan adat yang kukuh; mereka hanya diperbolehkan mengambil daun-daun yang sudah gugur di tanah tanpa boleh menebang pohonnya sama sekali.
Segala aktivitas di dalam hutan pun wajib mengantongi izin dari tokoh adat setempat melalui rembuk bersama.
Langkah Batik Valiri kian mantap saat bergabung dalam program inkubasi Gampiri Interaksi. Lewat pendampingan intensif selama delapan bulan, tata kelola usaha mereka makin rapi, mulai dari standardisasi operasional, peningkatan kapasitas SDM, hingga pembukaan akses pasar.
Langkah ramah lingkungan ini juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup setempat sejak 2024.
“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” kata Nedya Sinintha Maulaning, Perwakilan Gampiri Interaksi.
Komitmen hijau ini diwujudkan lewat aksi nyata di lapangan. Mereka rutin menggelar penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Ranjuri. Bahkan, program adopsi pohon yang diinisiasi sejak 2023 kini telah mencakup sekitar 50 pohon yang dijaga kelestariannya.
Kini, berkat jejaring Gampiri Interaksi dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), kain eksotis yang juga dipasarkan lewat Instagram ini sudah go internasional.
Batik Valiri kerap dijadikan suvenir resmi untuk kunjungan lintas provinsi maupun tamu mancanegara.
Wisatawan asing dari Amerika Serikat, Jepang, hingga Brasil tercatat pernah datang langsung ke Sigi untuk belajar membatik sekaligus memborong kain ini.
Bagi Kabupaten Sigi yang wilayahnya didominasi oleh kawasan hutan hingga 70 persen, kehadiran Batik Valiri menjadi bukti nyata dari konsep ekonomi restoratif. Saat hutan dijaga dengan baik dan adat dihormati, roda ekonomi masyarakat justru bisa berputar lebih kencang tanpa harus merusak alam sekitar.

