Tepis Isu Politisasi dan Soroti Nasib Petani Daerah
Berada di samping Presiden selama 14 tahun, Nanik menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) murni dirancang untuk perbaikan gizi generasi muda, bukan agenda politik menjelang Pemilu 2029. Menurutnya, mayoritas penerima manfaat saat ini adalah balita hingga murid SD yang belum memiliki hak pilih pada 2029.
Selain aspek kesehatan anak, Nanik menyinggung pentingnya MBG bagi perputaran ekonomi daerah. Dampak nyata program ini terlihat saat operasional MBG libur selama tiga minggu beberapa waktu lalu.
Kala itu, banyak petani dan peternak lokal mengeluhkan hasil panen serta pasokan susu yang mendadak tidak terserap pasar hingga harganya anjlok. Di beberapa daerah, pedagang pasar bahkan harus membuang buah dan sayur yang tak terjual.
Selesaikan Reformasi Birokrasi Sebelum Pamit
Sebelum menyerahkan jabatannya, Nanik mengklaim telah meletakkan fondasi kerja yang kukuh. Dia sempat melakukan penyegaran dengan mengganti lima pejabat Eselon I di BGN yang ditarik dari kementerian dan lembaga profesional, seperti Kemenkes, Kemendikdasmen, Kemenkeu, BPKP, dan Kejaksaan.
BGN juga telah membentuk 11 tim reformasi internal. Tim ini bertugas menajamkan sasaran program ke kelompok rentan (Balita, Ibu Menyusui, Ibu Hamil), siswa sekolah di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta melakukan evaluasi terhadap 27.877 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) operasional.
Terkait sosok penggantinya, Nanik memberi isyarat bahwa posisi Kepala BGN akan diisi oleh sosok tepercaya yang memiliki kedekatan dengannya.
Untuk saat ini, Nanik memilih memfokuskan seluruh energinya pada proses penyembuhan di bawah pantauan ketat pihak keluarga, seperti Kakak Kim dan Ade Ara, yang mengawasi pola makan, aktivitas fisik, hingga tingkat stresnya.

