DumaiHeadlines.com – Nama Marty Friedman selama ini identik dengan distorsi tebal dan teknik gitar shredding yang rumit saat memperkuat Megadeth di era keemasan thrash metal. Namun, siapa sangka jika kunci kreativitas musisi yang kini menetap di Jepang tersebut justru berakar dari disiplin musik klasik yang kaku dan megah.
Dalam wawancara terbaru bersama produser Tobias Le Compte, Friedman mengungkapkan bahwa musik klasik bukan sekadar hobi mendengarkan baginya, melainkan kurikulum belajar yang tidak pernah usai.
Keluar dari Zona Nyaman “Rock Star”
Meski dikenal sebagai dewa gitar dunia, Friedman mengaku tetap merasakan tantangan besar saat harus berkolaborasi dengan orkestra besar. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat ia membawakan karya komposer legendaris Antonín Dvořák.
“Saya melakukan pertunjukan Dvořák yang berdurasi 25 menit tanpa henti. Itu sangat aneh bagi seorang musisi rock. Isyarat (cue) musiknya berbeda jauh dengan band rock, dan itu membutuhkan latihan serta cara belajar yang benar-benar baru,” ujar Friedman.
Bagi Friedman, bermain musik klasik memberikan tekanan yang berbeda dibandingkan panggung rock yang sudah ia jalani sejak remaja. Ada rasa gugup yang segar, yang justru membuatnya terus berkembang sebagai musisi.

