Bitcoin Volatil Pasca-Pemangkasan Suku Bunga The Fed, Kenapa Tak Langsung Melonjak?

Lebih lanjut, dia menyoroti bahwa faktor utama yang menahan reli adalah ketersediaan likuiditas dolar riil di pasar global. Meskipun suku bunga dipangkas, data neraca keuangan The Fed menunjukkan bank sentral tersebut belum agresif memperluas likuiditas.

Fahmi merujuk pada data mingguan H.4.1 Federal Reserve per 17 September 2025, yang mencatat total aset The Fed masih jauh di bawah puncak pandemi ($9 triliun).

“Angka tersebut menandakan proses Quantitative Tightening (QT) atau pengetatan kebijakan moneter, masih berlangsung, meskipun dengan tempo yang melambat. Pasar menyadari, penurunan suku bunga saja belum cukup; ketersediaan likuiditas dolar secara riil di pasar adalah penentu utama,” tuturnya.

Proyeksi Jangka Pendek: Pasar Kripto dalam Fase Netral

Meskipun likuiditas global masih tertahan, indikator on-chain jangka pendek menunjukkan sinyal yang mulai mereda.

Fahmi menyebut, indikator SOPR (Spent Output Profit Ratio)—yang mengukur perbandingan antara aksi profit taking dan cut loss—saat ini berada pada level yang relatif normal. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan jual jangka pendek mungkin akan cukup minim.

Potensi New All-Time High (ATH) dan Skenario Risiko

Melihat ke depan, kondisi pasar tetap mendukung proyeksi positif bagi Bitcoin di sisa tahun ini. Fahmi memproyeksikan potensi kenaikan didukung oleh dua faktor utama:

  1. Outlook Suku Bunga Lanjutan: Hasil jajak pendapat dot plot FOMC pekan lalu mengindikasikan potensi dua kali pemangkasan suku bunga lanjutan, yang dapat memberikan sentimen positif jika didukung oleh kondisi inflasi yang stabil.
  2. Akumulasi Institusi: Tren akumulasi oleh investor institusi masih relatif solid, ditambah potensi berkembangnya adopsi ETF altcoin di masa depan.

Namun, investor juga dihadapkan pada skenario downside yang signifikan. Risiko terbesar adalah terjadinya pemerintah AS, yang dapat memicu tekanan arus kas jangka pendek dan potensi pemangkasan lapangan kerja berskala besar. Risiko lain termasuk lonjakan inflasi atau penguatan Dolar AS yang dapat memicu koreksi, dengan risiko Bitcoin turun di bawah $100.000.

Strategi Investor Indonesia: Fokus pada DCA dan Makro Global

Bagi investor di Indonesia, sisa tahun 2025 tetap membuka prospek diversifikasi ke aset risk-on seperti kripto.

BERITA TERKAIT

FOLLOW US

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
spot_img

BERITA TERKINI