Menaklukkan Dinginnya Jerman dan Keangkeran Yellow Wall
Keputusan Inacio pindah ke Borussia Dortmund dua tahun lalu sempat dinilai terlalu terburu-buru oleh banyak pihak. Berpindah negara, beradaptasi dengan budaya baru, dan menghadapi intensitas kompetisi seketat Bundesliga jelas bukan perkara mudah bagi seorang remaja.
Inacio tidak menampik bahwa musim-musim awalnya di Jerman dipenuhi tantangan berat, terutama urusan komunikasi.
“Bahasa adalah kendala terbesar saya di sana. Untungnya, saya tidak sendirian. Ada Luca Reggiani dan Filippo Mane yang juga bermain di sana. Kehadiran mereka sangat membantu saya untuk cepat membaur. Sekarang saya sudah mulai paham bahasa Jerman dan bisa bicara sedikit, meski sehari-hari saya lebih sering memakai bahasa Inggris,” ceritanya blak-blakan.
Kerja keras itu berbuah manis musim ini. Inacio sukses mencetak gol perdana di panggung Bundesliga. Luar biasanya, gol tersebut lahir langsung di hadapan Yellow Wall (Südtribüne), tribun selatan Signal Iduna Park yang terkenal sebagai salah satu tempat paling sakral dan intimidatif di dunia sepakbola.
“Itu adalah momen terindah sepanjang hidup saya. Merayakan gol di depan Yellow Wall memicu adrenalin yang luar biasa. Saya sudah lama memimpikan momen itu, dan ketika itu terjadi, saya merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Saya bahkan masih sering memutar video gol itu berulang kali,” kata Inacio sambil tersenyum lebar.
Kini, setelah berhasil menaklukkan Jerman, target Inacio berikutnya adalah mengunci satu tempat di lini depan Gli Azzurri. Remaja kelahiran tahun 2007 ini memiliki impian jangka panjang yang sangat tegas, mengembalikan martabat sepakbola Italia yang sempat runtuh.
“Memakai jersey Azzurri adalah puncak dari segala impian saya. Banyak legenda dunia lahir dari jersey ini. Saya ingin terus mempertahankan posisi saya di level tertinggi dan membawa Italia memenangkan trofi Piala Dunia di masa depan,” pungkasnya penuh ambisi.

