Maroko Lebih Tajam Memanfaatkan Kesempatan
Menghadapi Maroko, Kanada sejatinya tampil agresif sejak menit awal. Tekanan yang mereka bangun beberapa kali memaksa lawan melakukan kesalahan dan membuka peluang emas.
Sayangnya, peluang-peluang itu gagal dikonversi menjadi gol. Sebaliknya, Maroko mampu memanfaatkan situasi bola mati untuk membuka keunggulan sebelum menambah dua gol melalui skema serangan balik.
“Kami mampu menekan mereka dan menciptakan kesulitan. Peluang besar pertama justru kami yang dapatkan, tetapi tidak berhasil menjadi gol. Mereka kemudian mencetak gol dari kesempatan pertama yang dimiliki. Menurut saya, di situlah perbedaannya,” ungkap Eustaquio.
Dia juga menilai skor telak yang tercipta tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan. Meski demikian, ia mengakui Maroko tampil lebih efektif dalam menyelesaikan peluang.
Dukungan Suporter Jadi Modal Masa Depan
Bagi Eustaquio, pencapaian terbesar Kanada bukan hanya soal hasil di lapangan, melainkan meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap sepakbola.
Dia mengaku terkesan melihat euforia suporter di berbagai kota, terutama Toronto dan Vancouver, yang memadati lokasi nonton bersama selama Piala Dunia berlangsung.
“Kami meninggalkan sepak bola Kanada di tempat yang lebih baik. Sangat luar biasa melihat masyarakat berkumpul, bersorak, dan memberikan dukungan. Perjalanan kami memang berakhir hari ini, tetapi saya berharap seluruh rakyat Kanada tetap mendukung tim nasional dalam empat tahun ke depan,” tuturnya.
Piala Dunia FIFA 2026 memang telah usai bagi Kanada. Namun, menurut sang kapten, warisan yang ditinggalkan turnamen ini jauh lebih penting dibandingkan hasil akhir di atas lapangan.

