DumaiHeadlines.com – Kejutan besar terjadi di panggung Liga Champions. Inter Milan, yang menyandang status penguasa klasemen Serie A, justru harus angkat koper lebih awal setelah didepak wakil Norwegia, Bodo/Glimt.
Kekalahan tragis di San Siro ini memancing reaksi keras dari sang maestro taktik asal Negeri Pizza, Arrigo Sacchi.
Sacchi menyebut kegagalan Nerazzurri bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan sebuah “skandal” yang mempertanyakan kualitas kompetisi sepakbola Italia saat ini.
San Siro yang Tak Lagi Angker
Bermain di hadapan pendukung sendiri, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB, Inter Milan gagal membalikkan keadaan.
Setelah menyerah 1-3 di leg pertama, skuat asuhan Cristian Chivu kembali dipaksa menelan pil pahit dengan skor 1-2 (Agregat 2-5).
Hasil ini dianggap sangat memalukan mengingat perbedaan kasta, nilai pasar pemain, hingga sejarah besar yang dimiliki Inter Milan dibandingkan Bodo/Glimt.
“Saya tadinya sangat yakin Inter akan lolos karena kualitas teknik dan dukungan San Siro. Namun, semua logika itu buyar,” tulis Sacchi dalam kolomnya di Gazzetta dello Sport.
“Hasil ini benar-benar sensasional jika kita membandingkan pengeluaran dan pendapatan kedua klub,” tambahnya.
Sinyal Bahaya untuk Serie A
Mantan pelatih AC Milan dan Timnas Italia ini merasa ada yang salah dengan level sepakbola Italia. Meskipun Inter Milan saat ini unggul 10 poin di liga domestik, mereka justru tak berkutik melawan tim dari liga yang levelnya jauh di bawah Serie A.
“Kenyataan bahwa tim Norwegia mampu menyingkirkan tim terkuat Italia menunjukkan adanya penurunan level yang nyata. Pertanyaan besar harus diajukan kepada sistem sepak bola kita,” ungkapnya.
Sacchi juga mengkritik manajemen mental pemain Inter yang sempat tampil perkasa di awal fase grup dengan empat kemenangan beruntun, namun justru “melempem” di saat-saat krusial.
Nasib Wakil Italia di Ujung Tanduk
Tersingkirnya Inter kini meninggalkan lubang besar bagi Italia di kompetisi Eropa. Beban berat kini berpindah ke Juventus dan Atalanta yang juga sedang terjepit.
Juventus harus berjuang ekstra keras setelah dibantai Galatasaray 5-2, sementara Atalanta harus mengejar defisit dua gol dari Borussia Dortmund.
Jika keduanya tumbang, maka habislah taji Italia di Liga Champions musim ini.

