Antivora sendiri memiliki pengalaman yang rumit saat kali pertama menghadirkan album Hypothesis Diathesis sekitar 3 tahun lalu. Tidak mudah bagi mereka menjalani proses rekaman maupun menggandeng label yang bersedia merilisnya.
“Kalau rekaman, wah kita benar-benar effort banget. Kita sendiri bertekad bahwa album pertama ini harus bisa rampung. Segenap upaya kita lakukan, apalagi saat itu kami lagi semangat-semangatnya untuk punya dokumentasi karya,” ungkap Alwi.
Tidak berhenti sampai di situ, para personel Antivora juga sempat kesulitan memperoleh label yang mau memproduksi dan mendistribusikan debut albumnya. Setelah ditolak sana-sini, akhirnya Antivora mendapat anggukan saat memperdengarkan materi lagunya ke Asep Walam atau yang dikenal Alam Gerilya dari Edelweiss Records (Jakarta).
“Maklum mas, band kami dari kampung, dari kota kecil, siapa yang mau ngelirik. Sampai akhirnya, saya benar-benar banyak terima kasih buat Bang Alam yang bukan hanya menerima, tapi juga begitu antusias dengan lagu kami. Saat itu, kami kasih single Hypothesis Diathesis,” jelas pria yang gemar memancing ini.

