DumaiHeadlines.com – Kembalinya raksasa nu-metal Linkin Park dengan album terbaru mereka, From Zero, pada November 2024 lalu masih menjadi perbincangan hangat di industri musik global.
Banyak penggemar yang penasaran bagaimana dinamika terbentuk antara personel lama dengan dua anggota baru mereka: vokalis Emily Armstrong dan drummer Colin Brittain.
Dalam wawancara terbaru dengan Lollapalooza India, dua penggawa lama Linkin Park, Joe Hahn (DJ) dan Mike Shinoda (vokalis/gitaris), membeberkan dapur kreatif mereka.
Ternyata, proses penyatuan personel baru ini tidak terjadi melalui audisi kaku, melainkan lewat proses pertemanan yang organik.
Berawal dari ‘Nongkrong’ di Studio
Joe Hahn mengungkapkan bahwa kunci dari identitas Linkin Park adalah interaksi antar personel sebelum musik diciptakan.
“Saya pikir bagian besar dari apa yang membuat kami menjadi ‘kami’ adalah ketika berada di satu ruangan, biasanya di studio rumah Mike. Sebelum kami membuat musik, kami hanya nongkrong (hanging out),” ujar Joe Hahn dikutip dari Blabbermouth, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, mereka lebih banyak berbicara tentang kehidupan, hal-hal yang menarik minat, atau masalah yang sedang dihadapi. Dari percakapan itulah seringkali muncul inspirasi topik atau vibe untuk lagu baru.
“Di situlah Emily dan Colin masuk ke dalam lingkungan yang selalu kami miliki, dan rasanya sangat alami bagi mereka untuk menjadi bagian darinya. Jadi, sebagian besar (keberhasilan) ini berkaitan dengan persahabatan serta keterampilan yang kami bawa masing-masing,” ungkap Joe.
Colin Brittain: Produser yang Bisa Berubah Jadi Mode Fans
Mike Shinoda menambahkan bahwa chemistry tersebut muncul selama berhari-hari hingga berminggu-minggu. Linkin Park tidak serta merta memutuskan untuk “memulai kembali band”, melainkan bertanya pada diri sendiri apakah mereka masih memiliki dorongan kreatif yang menyenangkan.
Menariknya, Colin Brittain, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis lagu dan produser untuk G Flip dan One Ok Rock, memiliki keunggulan unik.
“Terkadang Colin bisa beralih dari mode produser ke mode penggemar. Saya bisa melihatnya terjadi. Saat saya memainkan sesuatu, dia akan berkata, ‘Ya, hal yang saya suka dari Linkin Park adalah bagian ini.’ Itu adalah aset yang sangat bagus,” ungkap Shinoda.
Sementara itu, Emily Armstrong memiliki koneksi historis dengan band ini. Album debut Hybrid Theory adalah salah satu album yang didengarkannya saat belajar menyanyi, dan “One Step Closer” adalah lagu pertama di mana ia belajar melakukan teknik scream.
Menemukan Suara “Sekali dalam Satu Generasi”
Mike Shinoda mengakui bahwa menemukan pengganti mendiang Chester Bennington adalah hal yang mustahil jika dicari secara sengaja. Namun, kehadiran Emily dirasa sebagai sebuah fenomena.
“Bagi kami, menemukan suara sekali dalam satu generasi seperti Chester, lalu menemukan satu lagi seperti Emily, itu gila. Itu sangat tidak masuk akal,” kata Shinoda dalam wawancara terpisah.
Dia menekankan bahwa meskipun ada ribuan penyanyi hebat, faktor “intangible” atau hal yang tak berwujudlah yang menentukan. Bersama Emily dan Colin, suasana di studio terasa mudah, tanpa argumen yang mematikan semangat, dan penuh kesenangan.
Sukses Besar Tanpa Ekspektasi Berlebih
Album From Zero sendiri sukses besar di pasaran, didorong oleh singel The Emptiness Machine yang meledak di tangga lagu. Linkin Park bahkan menjadi satu-satunya band rock yang menembus angka 2 miliar streaming pada tahun 2024.
Meski demikian, Shinoda menegaskan bahwa saat membuat album, mereka tidak memikirkan soal hits.
“Kami tidak memikirkan hits. Itu bukan bagian dari proses kami. Yang utama, kami ingin mencintai apa yang kami lakukan dan merasa bahwa secara artistik ini mewakili babak penting bagi band,” pungkasnya.
Linkin Park kini tengah menjalani tur dunia untuk From Zero dengan formasi baru, di mana posisi gitaris Brad Delson saat live digantikan oleh Alex Feder, meskipun Delson tetap berkontribusi penuh di dalam studio.

