DumaiHeadlines.com – Fenomena September Effect kembali jadi sorotan di pasar keuangan global. Istilah ini merujuk pada tren historis di mana kinerja indeks saham Amerika Serikat cenderung lebih lemah pada bulan September dibandingkan periode lainnya. Salah satu penyebab utamanya adalah aksi rebalancing portofolio oleh investor institusi menjelang akhir kuartal.
Tahun ini, tensi pasar semakin tinggi karena pada 17 September mendatang, bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) dijadwalkan menetapkan arah kebijakan suku bunga. Konsensus pasar memperkirakan pemangkasan tipis sebesar 25 basis poin.
Risiko “Sell the News” di Saham AS
Menurut analis Reku, Fahmi Almuttaqin, skenario pemangkasan suku bunga sebenarnya sudah diantisipasi pelaku pasar sejak beberapa minggu terakhir. Hal itu membuat risiko sell the news cukup besar, terutama jika The Fed tetap mengirimkan sinyal hawkish bahwa inflasi belum sepenuhnya terkendali.
“Bagi saham AS, dampaknya bisa ambigu. Jika nada dovish turut mengiringi, sektor teknologi dan properti berpeluang memimpin reli. Namun, bila nada hati-hati yang keluar, investor mungkin memilih profit taking, yang bisa menekan indeks dalam jangka pendek,” tutur Fahmi dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (10/9/2025).

